Sunday, November 30, 2008

Renung

"Bahkan dedaunan yang jatuh dari tangkainya tidak terlepas dari skenario Allah.."


Inilah kalimat yang membuat saya berhenti sejenak. Saya pandangi punggung sosok yang barusan mengucapkan kalimat itu, karena ia memang sedang duduk membelakangi saya. Sosok biasa saja, seorang al-ukh yang sedang meminum sereal hangat. Entah dengan maksud apa ia mengucapkan kalimat itu. Entah untuk siapa kalimat itu ditujukan. Di malam yang bagi saya, sangat melelahkan. Di ruang keluarga Asma Amanina yang sudah mulai sepi, karena penghuni Asma sebagian besar telah terlelap..

Saya tengah berkutat dengan buku karangan O'Brien dan Marakas. Yang kalau bukan karena buku wajib mata kuliah Sistem Teknologi Informasi, tidak akan ada di atas meja saya malam ini.

Setelah lelah sejak Sabtu pagi hingga Ahad sore mengikuti Dauroh Murobbi Kampus. Setelah miris, karena bertepatan ketika saya ada di DMK, teman-teman sekelas saya sedang makan-makan karena mereka lulus ujian kompre di hari Sabtu itu. Setelah khawatir dimarahi ustadz karena keluar Asma jam 8 malam, padahal saya harus mengirimkan fax ke beberapa surat kabar sehubungan dengan amanah di tim media. Setelah bingung kenapa malah buku STI yang ada di atas meja padahal besok Senin itu ujian Etika Bisnis. Setelah merasa kelaparan karena tidak sempat beli makan, dan akhirnya masak mie instan jam setengah 10 malam.

Semuanya, membuat saya ingin menangis. Dan air mata itu memang sudah keluar sedikit, di sudut dapur yang gelap karena lampunya lagi-lagi mati, entah untuk yang keberapa kali. Air mata itu keluar, ketika saya menengadah, melihat langit, tapi tak hendak meragukan keMahaTahuanNya.

Saya masih harus banyak belajar tentang ikhlas, tentang tadhiyyah, tentang rasa sakit, tentang prioritas.

Malam semakin larut, saya masih duduk di ruang keluarga yang bertambah sepi. Kini hanya tinggal 2 orang, saya dan seorang al-ukh lain yang juga sedang duduk membelakangi saya, sibuk menyetrika. Saya masih merasakan sakit di sekitar pundak kanan, saya sampai lupa apa yang tadi telah terjadi pada salah satu anggota tubuh saya itu.

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah...



*ajari aku menjadi kuat, atau paling tidak, jadilah sumber kekuatanku..*

2 comments:

Anonymous said...

semangat ya umi sayang...
kapan dong kita bisa ketemu?

Anonymous said...

semua kejadian ada hikmahnya, Saudari. bahkan bahu yg sakit pun bisa terobati dgn geliga. //halah, ga nyambung//

v(^_^)

semangat!