Thursday, August 09, 2007

Home-nya Michael Buble

Theme song buat hari-hari saya belakangan ini.. Kangen sama rumah.. Sekarang masih di Kebumen. Udah dapet kos di deket kampus, nama daerahnya Kuningan. Besok-besok masih harus bolak-balik ke Jogja buat ngurus jas almamater-lah, buat tes asistensi-lah, buat technical meeting ospek-lah.. Banyak yang harus diurus.

Tapi tetep aja, disela-sela kesemuanya itu, kalo keinget rumah.. huu kangeeenn.. There's no place like home.. Suara hujan yang beda, bau udara yang beda, gesekan dedaunannya pun tak sama..

Kalo dirumah, kalo lagi gak ngapa-ngapain, saya suka duduk menghadap jendela kamar, memandang keluar jendela, liat hijaunya rumput di depan rumah, liat langit biru tanpa awan, liat pohon-pohon bergoyang bersama angin, kemudian memejamkan mata, tarik napas dalam-dalam, dan tersenyum.. I could never ask for more deh..

Itulah untungnya tinggal di pinggiran, di kampung, masih banyak yang ijo-ijo, yang seger-seger buat diliat.. Saya beruntung!

and i surrounded by,
a million people, i
still feel all alone,
just wanna go home,
i miss you, you know

another aeroplane, another sunny place,
i'm lucky, i know, but i wanna go home,
i got to go home,
let me go home,
i'm just too far, from where you are,
i wanna come home..

Friday, August 03, 2007

Puisi Sampah (Sampe Muntah)

ketika hujan tak se-romantis biasa
bahkan senyum tak jadi penawar duka
ada yang menggantung di dua mata
sehingga tampak keruh,
layu, hilang merah pipinya

berada dalam jalan penantian
pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba
terpanggang di tengah-tengah
bahkan hujan tak se-romantis biasa

air diluar, turun ke bumi
air didalam, turun ke pipi

- kalo hujan duit, bukannya gak romantis,
tapi gak realistis.. alias mimpi abiiiss.. hehe -

Thursday, August 02, 2007

Pengamen = Ksatria Bergitar ?

'Sugih dudu ukuran mulyo, mlarat dudu ukuran hino..'

Sebaris kalimat ini, saya dengar dari mulut seorang pengamen yang sedang melantunkan sebuah lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Sebuah lagu 'mix' dari wejangan orang-orang tua, sarat nasihat dalam bahasa jawa, sedikit kocak, namun diakhiri dengan bait lagu 'Tombo Ati' yang terkenal itu. Saat itu saya sedang berada di dalam bus Purwokerto-Jogja. Satu baris kalimat yang artinya 'Kaya bukan ukuran kemuliaan, miskin bukan ukuran kehinaan..' Dasar saya terlalu sensitif, tiba-tiba saja air mata saya meleleh.. Begitu tersentuh sama kata-kata dari mas-mas pengamen itu..

Begitu banyak manusia di dunia ini yang sangat getol mengejar dunia, hingga melupakan akhiratnya, tempat kembalinya, sekaligus kehidupan yang sebenarnya. Mungkin juga termasuk saya.. (Dan mungkin, kesadaran akan hal inilah yang turut menyebabkan saya menangis tadi..) Terkadang saya tanpa sengaja telah menutupi ingatan tentang Rasulullah, manusia termulia sepanjang sejarah, yang miskin harta. Jadi malu saya, padahal sudah dengan jelas saya menyebutkan 'Cinta mati sama Allah, Rasulullah dan Qur'an' di bagian profile..

Terima kasih ya, mas pengamen.. Jazaakumullah khairan katsiran.. Sesungguhnya saya juga masih dalam upaya perbaikan diri.. Yuk, bebenah bareng-bareng.. (Suer deh, kalimat yang ini jangan ditendensikan sebagai kampanye dari salah satu Cagub DKI y? Hehe..)

Semangkaa..!